“Sakit punggung saya sangat parah. Saya sudah ke mana-mana untuk berobat, tapi gagal. Saya dengar, banyak yang datang ke kelas Anda dan sakit punggungnya sembuh.”
Kalimat ini diucapkan seorang ibu saat menyambangi kelas saya. Walau kalimatnya sangat tidak tepat dan lari dari konteks—mengingat saya bukan praktisi kesehatan, apalagi seorang dukun, yang berhak melakukan terapi medis—saya hanya tersenyum. Daripada dia malah putus asa. Dari paparannya, saya menduga ia menderita kondisi yang mempengaruhi kesehatan saraf sciatica atau bahasa medisnya HNP (Herniated Nucleus Pulposus). Dalam bahasa awam, lebih akrab disebut “saraf terjepit”. Kondisi ini sangat umum terjadi dan mendominasi keluhan “sakit punggung” yang biasa diresahkan orang. Kondisi ibu ini sebenarnya biasa-biasa saja, dia masih bisa berjalan dan terlihat normal. Tidak seperti penderita sciatica kronis yang biasa saya temui. Dugaan saya, dia mungkin punya trauma berat di masa lalu, yang membuatnya merasa bahwa kondisinya ada pada level yang amat parah.
Singkat cerita, ia masuk ke kelas dan saya melihat caranya berdiri, postur serta ekspresi bahasa tubuhnya. Tak perlu waktu lama untuk memperkirakan kondisi yang dialaminya. Saya lalu memintanya untuk melakukan satu pose yoga, lalu terjalinlah dialog ini:
Saya : "Sakitnya di mana?"
Ibu : "Di sini." (Sambil melakukan pose yoga untuk rasa sakit terkait)
Saya : "Masih sakit?"
Ibu : "Sekarang kaki saya yang rasanya menjadi tegang."
Saya : "Tidak! Pertanyaan saya, masih sakit atau tidak?"
(Ibu itu berpikir sejenak)
Ibu : "Tidak, sih, tapi kaki saya rasanya enggak enak sekali"
Saya : "Karena memang di sanalah akar permasalahannya."
Sang Ibu memandang saya dengan sangat gusar. Mungkin ia mencap saya bodoh. Atau, menyesal telah percaya pada orang yang menyarankannya datang ke kelas saya. Setelah itu, saya tidak pernah bertemunya lagi. Jujur, bagi saya itu bukan masalah. Bila dia hanya berfokus pada masalah utama di punggungnya dan melupakan faktor lain, yang ternyata adalah penyebab, sampai kapan pun ia tidak akan lepas dari rasa sakitnya.
STRUKTUR KAKI
Mengapa sepasang kaki yang lemah bisa membuat punggung ibu itu jadi sakit? Sulit menjelaskannya secara singkat, karena kesannya akan menggampangkan masalah. Namun, kita bisa mengandaikannya seperti rangkaian kartu domino, yang ketika salah satu ujungnya disentuh, seluruh kartu akan terjatuh satu demi satu.
Tugas utama kaki adalah menunjang tubuh. Untuk itu, perlu kerjasama dengan beberapa elemen lainnya, seperti beberapa bagian dari otot di punggung dan perut, tulang punggung, panggul, dan lain sebagainya. Namun, kaki tetap hal utama yang membuat tubuh kita berdiri tegak. Sayangnya, sesuai dengan perkembangan usia, kita sering tidak mengacuhkan fungsi utama ini dengan serangkaian perlakuan buruk yang membuatnya tidak prima dalam bertugas.
Pernah melihat orang yang berdiri santai dalam waktu lama hanya bertumpu pada satu titik tubuhnya, entah di kiri atau kanan? Orang yang berdiri membungkuk? Seorang wanita yang mampu memakai hak tinggi seharian selama seminggu penuh? Atau, orang yang berdiri pada sisi luar maupun dalam telapak kakinya? Semua ini membuat tubuh menderita, karena elemen utama yang seharusnya menopangnya agar selalu tegak, tidak bisa berfungsi semestinya. Akibatnya, elemen-elemen penunjang mengambil alih peran penting, yang seharusnya bukan jadi tugasnya.
Kembali ke kisah Ibu tadi. Karena tidak terbiasa menggunakan struktur kaki dengan baik (terbukti kakinya terasa tak nyaman saat saya mengaktifkan fungsinya dengan pose yoga), ia mengandalkan fleksibilitas tulang punggungnya untuk bergerak. Saat membungkuk, kakinya tidak menjadi titik tumpuan utama. Ia malah membiarkan pergerakan antara pertemuan tulang punggung bagian bawah (lumbar) dan tengah (thoracic) sebagai katalisator utama. Jangan heran bila kemudian gel yang ada di antara ruas tulang lumbar ke-4 dan 5 jadi bergeser dan menekan saraf sciatica, sehingga menimbulkan rasa sakit. Itu juga sebabnya, semua terapi yang ia lakukan gagal. Karena dia lebih fokus pada akibat atau efek samping dari gangguan yang dialami, tanpa pernah berusaha menyentuh akar penyebabnya.
PELIHARALAH KESEHATAN KAKI
Sadari pentingnya fungsi kaki dengan serus menjaga kesehatan daerah itu dengan saksama. Lakukan aktivitas fisik dan jaga postur. Ini adalah cara terbaik agar kaki kita selalu prima. Perhatikan kondisi kaki dengan berdiri di depan cermin. Lihat, apakah sepasang kaki kita menopang tubuh dengan seimbang, tidak condong ke kiri atau kanan. Begitu juga dengan posisi tumit, dan sisi luar maupun dalam telapak kaki. Posisi pinggul juga harus rata di kedua belah sisi.
Pose yoga seperti suptha padangustasana adalah salah satu contoh aktivitas fisik yang memelihara kekuatan serta kesehatan struktur kaki. Peregangan yang tepat dari pose ini membuat jarak natural yang seharusnya tercipta antara tulang kering dan tulang paha selalu terjaga, sehingga sendi lutut prima setiap saat. Otot paha belakang (hamstring) yang cenderung mengeras serta memendek dan berpotensi merusak, menjadi lebih fleksibel. Serta, jauh dari kemungkinan cedera. Pose yoga ini bisa diterapkan di awal maupun di akhir setiap aktivitas fisik yang tergolong berat. Jadi, kaki akan terhindar dari masalah berat di kemudian hari.
| Oleh: Erikar Lebang. Praktisi yoga ini telah menekuni bidang pembentukan tubuh sejak 12 tahun lalu. Mendalami Iyengar Yoga pada IYCA Iyengar Yoga Center of Amsterdam, Belanda. | ![]() |
| Baca artikel ini di Majalah Prevention Indonesia, edisi Maret 2010! |









