health
Informasi terpercaya dari metode ilmiah dan analisa ahli yang membantu kita untuk hidup tetap sehat
From our Editor
Ada alasan mengapa kita sebaiknya mengadaptasi kebiasaan baru: berjalan kaki. Pertama, karena berjalan kaki adalah kegiatan olahraga yang sempurna – bisa menguatkan tubuh, menjaga kesehatan jantung, menurutnkan tekanan darah, mengatur berat badan dan membuat kita merasa nyaman dan segar sepanjang hari.

Riset di Prevention menunjukkan bahwa jalan kaki teratur dapat mengurangi rasa khawatir yang berlebihan dan menghadirkan mood yang b ...

video
Kondisioner Alami Pelembut Rambut
You need to upgrade your Flash Player This is replaced by the Flash content.
 
Makan Hati,… Deh!

Entah dari mana gambar karikatur ‘hati’ berasal. Berwarna merah, dengan bagian atas kiri kanan melengkung membulat dan bertemu menguncup di bagian bawah.

 Ilustrasi :Ezra Saraswati

Yah, Anda pasti paham apa maksud saya. Penempatannya pun di bagian dada figur manusia, yang semestinya wilayah ‘kekuasaan’ jantung. Karena latar belakang kuliah anatomilah saya menjadi sadar seperti apa bentuk hati sesungguhnya dan di mana posisi tepatnya organ itu. Kalau tidak, barangkali seumur hidup saya termakan gambar kartun sesat yang masih juga dipakai sebagian besar penduduk dunia untuk menggambarkan… jantung! Atau.. jangan-jangan yang sesat justru proses alih bahasanya? “Use your heart to love” (mengacu pada gambar kartun tadi dan telapak tangan ditempel persis di posisi jantung) diterjemahkan secara tutur menjadi “Gunakan hatimu untuk mencinta”. Akan ajaib rasanya bila kita dengar orang berkata, “Gunakan jantungmu untuk mencinta”. Nah, betul, ‘kan!

Biarkan mereka tetap menggunakan ikon jantung untuk menggambarkan degup cinta yang membara, penuh stimulasi adrenalin, yang membuat orang kasmaran tidur tak nyenyak, makan tak lasak. Bagi kita, mengambil kata ‘hati’ barangkali bukanlah suatu kebetulan. Cinta bagi kehidupan Asia nilainya lebih bersifat pendarasan, yang awalnya bisa jadi seperti goncangan pasir lembut dalam bejana air, namun perlahan-lahan butiran pasir itu pun satu per satu turun, menata diri ke dasar ceruk yang duduk tenang. Hati, yang secara anatomi dikenal sebagai ‘liver’, tidak berdegup gegap gempita bagai jantung, namun kerja fungsionalnya seluhur kesetiaan denyut jantung. Kerusakan hati yang fatal jarang ditandai dengan serangan akut. Bahkan infeksi virus hepatitis yang paling ganas pun sering tidak menimbulkan gejala-gejala penyakit parah pada awalnya. Padahal, lambat laun fungsi hati selaku penyaring dan penetral racun (dikenal sebagai ‘organ detoks’) kian ambruk.

Bukan suatu kebetulan juga bila secara metafora digambarkan bahwa cinta adalah kerja keras detoksifikasi, memisahkan racun kehidupan dari semua pengalaman yang dicerap oleh indera manusia. Bukan suatu jargon pula bila dikatakan cinta itu sabar dan rendah hati, tidak cemburu, tidak sombong, egois, atau kasar, atau memaksakan kehendaknya sendiri. Cinta tidak pernah senang akan ketidakadilan, namun bergembira bila kebenaran menang. If you love someone, you will be loyal to him no matter what the cost. You will always believe in him, always expect the best of him, and always stand your ground in defending him. Bila jantung akan langsung sekarat tanpa campur tangan dokter membuka pembuluh darah by-pass untuk mengatasi kemacetan arterinya, hati justru senantiasa berjuang keras demi tuannya. Selalu memberi yang terbaik, selalu membela tuannya. Sekalipun pelan-pelan kerja hati melemah karena serangan virus, tapi sebelum struktur sel-selnya rusak total dan mengeras, hati berupaya membuat banyak by-pass di sepanjang saluran cerna agar manusia tetap survive. Itulah sebabnya mengapa pada kasus kerusakan dan pengerasan hati yang telah parah, ancaman perdarahan saluran cerna selalu terjadi – karena pembuluh darah by-pass sangat ringkih, bukan pembuluh darah sebenarnya untuk menunaikan tugas.

Namun manusia selalu berkhianat dengan tubuhnya, semakin banyak racun masuk. Dari yang katanya wewangian mobil hingga pengharum toilet dan pembasmi nyamuk, hingga obat yang menurut dokter mengatur metabolisme tubuh (padahal sebenarnya bisa diatur dengan gaya hidup). Jadilah hati sebagai organ ‘hancur-hancuran’, penahan bentur (bumper) kiri kanan, yang tak tergantikan. Bukan suku cadang mesin mobil yang seenaknya bisa ditransplantasi. Yang berujung pada paham reduksionisme – penciutan nilai tubuh bagi manusia yang utuh tak terpisahkan, juga antar organ tubuhnya.

Keterasingan manusia dengan kondisi memiliki tubuh (dan seluruh isi tubuh) – termasuk hati – membuatnya semakin terasing dengan cinta yang mendaras, yang berjuang mati-matian agar manusia berbahagia. Penggenjotan tubuh yang didera oleh kenikmatan semu sebatas lidah membuat hati kian tergopoh-gopoh memisahkan racun dan nutrisi. Begitu pula gejala kompensasi tubuh yang dikira penyakit dan ditumpas dengan ‘obat’ menyengsarakan hati hingga mengeras, sekeras ‘perasaan hati’ sang empunya tubuh.

Fenomena fatique, kelelahan yang amat sangat, yang juga dikenal sebagai salah satu ciri kerja hati yang sudah kocar-kacir, sering disalahtafsirkan sebagai kurang darah, alias anemia, karena tampilan wajah yang pucat. Lebih gawat lagi, masih ada anjuran ‘nutrisi’ untuk menangani anemia tersebut dengan… makan hati. Alias chicken liver atau beef liver. Sedangkan kita sudah tahu persis, hati adalah organ ‘penatalaksanaan racun’. Jadi, yang sebenarnya dimakan dalam chicken liver tadi adalah…..? Aha.

Padahal, kalau hanya sekadar mendongkrak zat besi sebagai bahan baku pembuat sel darah merah, kita punya daftar kandungan zat besi bahan makanan asli Indonesia. Bukan liver, yang tiap onsnya hanya berisi 6,6 mg zat besi. Masih ada udang segar (8,0 mg), daun jambu mete muda (8,9 mg),  daun kecipir (8,2 mg), tempe (10 mg) dan… oncom kedele (27 mg) (Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI, Daftar Komposisi Bahan Makanan, 1972). Biarkanlah hati tetap pada tugas mulianya melakukan detoksifikasi. Jadi, jangan makan hati….(Dr. Tan Shot Yen, M.Hum.,)

DR. Tan Shot Yen, M.Hum., adalah seorang medical doctor, praktisi energy healing, dan certified medical hypnotherapist. 

Artikel Terkait :

Pola Baru? Bukan!

If It’s to be, It’s up to……?

Stay as sweet as you are.... 

TUBUH, BUKAN MESIN YANG HIDUP!



Bookmark and Share on Twitter Bookmark and Share on Facebook Google Bookmark and Share
Rating : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
0 votes
Dilihat : 1,758
0 Comments
Belum ada komentar
Your Comments
Nama :
E-mail :
Judul :
Komentar :
 
artikel lain : Doctor Tan Say
Banyak orang salah paham, mengira konsumsi makanan hanya lewat mulut. Bagi saya, maknanya tak hanya sebatas itu.
Bolehlah, sesekali judul takzim (yang bukan ja’im) menyambut edisi puasa-lebaran kita tahun ini!
Puasa malah gemuk? Atau, maag jadi kambuh? Hindari dengan berpuasa yang benar.
Pernah terpikir, bahwa sebenarnya dari semua benda mati yang kita lihat diam bergeming itu ternyata merupakan kumpulan atom yang justru sibuk setengah mati bergerak?